Entah apa yang ingin ku tulis
Ketika tanganku bergerak menoreh kata
Entah apa yang ada dalam benakku
Ketika ku tulis kalimat-kalimat ini
Hanya ada hasrat,
walau aku tak tahu hakikatnya
memang ada keinginan,
tapi tak pasti apa sebenarnya
Aku sadar,
Kadang keinginan itu tanpa wujud
Ia hanyalah simbol-simbol semu,
Yang terbersit dalam maya
Bergerak dalam jiwa
Mengetuk pintu nurani
Ia hanyalah bayang-bayang nyawa
Dan manusia tak bisa hidup tanpanya
Yah….
Keinginan! Hasrat! Ambisi! Gejolak hati!
Semuanya adalah inti
Semua itu maya, tapi nyawa dan nyata
Yang membawa kaki-kaki manusia
Mau benar? Atau ingin memar?
Entah apa yang akan aku lakukan
Ketika hasrat jiwa yang berbicara
Dan raga hanyalah besi-besi tua
Yang bergerak mengikuti aliran nurani
Walau tak tahu tujuan pasti
Entah apa yang harus ku tulis selanjutnya…
Haruskah ku akhiri kata-kata ini..?
Aku malu!
Aku haru!
Karena tak bisa merubah makna
Menjadi lukisan-lukisan realita
Entah apa yang ada di benakmu…
Ketika kau baca kata-kata ini
:200301 Cairo
Tuesday, March 20, 2001
Wednesday, March 7, 2001
Atas Nama Cinta
Aku inginkan engkau datang
aku harapkan engkau kembali
aku impikan engkau bersamaku di sini
Wahai…
yang dunia selalu menyapanya
yang embun selalu menetes di wajahnya
yang matahari selalu menyinari matanya
yang rembulan selalu menyelinap di bibirnya
yang hujan tak bisa menyentuhnya
Terimalah ungkapan hati terluka
terimalah kata lisan berduka
terimalah jeritan jiwa terpenjara
terimalah bahasa raga bersenda
Walau ombak menghantam karang
biar petir menyambar pualam
walau racun menusuk tulang
dan laba-laba merusak bingkai
Aku teriakkan
hanya satu kata
hanya satu makna
CINTA!
H-10 07032001
aku harapkan engkau kembali
aku impikan engkau bersamaku di sini
Wahai…
yang dunia selalu menyapanya
yang embun selalu menetes di wajahnya
yang matahari selalu menyinari matanya
yang rembulan selalu menyelinap di bibirnya
yang hujan tak bisa menyentuhnya
Terimalah ungkapan hati terluka
terimalah kata lisan berduka
terimalah jeritan jiwa terpenjara
terimalah bahasa raga bersenda
Walau ombak menghantam karang
biar petir menyambar pualam
walau racun menusuk tulang
dan laba-laba merusak bingkai
Aku teriakkan
hanya satu kata
hanya satu makna
CINTA!
H-10 07032001
Thursday, March 1, 2001
Bukan Wahyu
Apa yang menjadi kesepakatan bersama
Apa yang telah kita akui bersama
Bukanlah harga mati
Yang tak bisa dikaji lagi
Apa yang pernah kita tulis bersama
Apa yang telah kita baca bersama
Bukanlah dogma baku
Yang tak dapat diganggu
Apa yang ada dalam benak kita, dulu
Apa yang menjadi prinsip kita, yang lalu
Bukanlah wahyu
Yang harus kita gugu dan tiru
Apa yang pernah kita jalani
Apa yang pernah kita lalui
Hanyalah kenangan dan masa lalu
Sutuh, 1/3/01
Apa yang telah kita akui bersama
Bukanlah harga mati
Yang tak bisa dikaji lagi
Apa yang pernah kita tulis bersama
Apa yang telah kita baca bersama
Bukanlah dogma baku
Yang tak dapat diganggu
Apa yang ada dalam benak kita, dulu
Apa yang menjadi prinsip kita, yang lalu
Bukanlah wahyu
Yang harus kita gugu dan tiru
Apa yang pernah kita jalani
Apa yang pernah kita lalui
Hanyalah kenangan dan masa lalu
Sutuh, 1/3/01
Saturday, February 24, 2001
4U
Ada rasa tersimpan
Tapi hati terus menahan
Ada sinar yang berpijar
Tapi malam belum juga pudar
Ada seraut wajah terlukis
Tapi debu-debu sulit terkikis
Ada kamu di dalam khayal
Tapi belum singgah di genggam tangan
Cairo. 24.02.2001.
Tapi hati terus menahan
Ada sinar yang berpijar
Tapi malam belum juga pudar
Ada seraut wajah terlukis
Tapi debu-debu sulit terkikis
Ada kamu di dalam khayal
Tapi belum singgah di genggam tangan
Cairo. 24.02.2001.
Saturday, January 20, 2001
KATA-KATA YANG MEMBUNUH
Kata-kata yang kukirim bersama angin
Jangan engkau lukis dalam batu granit
Gemanya jangan kau rekam
Dalam piringan hitam
Ku mohon
Kata-kataku yang kau dengar lewat bisikan udara
Jangan pernah menembus bumi
Jangan sampai membelah air
Biarkan ia melaju bersama anak panah
Hilang dalam luas ruang hati
Kata-kataku yang kukirim lewat indramu
Bukan peluru yang membunuh
Bukan cakar yang mencabik
Bukan taring yang menggigit
Bukan pula apa-apa
Ia hanyalah padang rumput!
Dan kau tanam buah prasangka
Di dalamnya
Maafkan aku….
Karena tamanku tak berpagar
Mesir, 19012001
Jangan engkau lukis dalam batu granit
Gemanya jangan kau rekam
Dalam piringan hitam
Ku mohon
Kata-kataku yang kau dengar lewat bisikan udara
Jangan pernah menembus bumi
Jangan sampai membelah air
Biarkan ia melaju bersama anak panah
Hilang dalam luas ruang hati
Kata-kataku yang kukirim lewat indramu
Bukan peluru yang membunuh
Bukan cakar yang mencabik
Bukan taring yang menggigit
Bukan pula apa-apa
Ia hanyalah padang rumput!
Dan kau tanam buah prasangka
Di dalamnya
Maafkan aku….
Karena tamanku tak berpagar
Mesir, 19012001
Friday, January 19, 2001
Belati Wajah
Aku sumbat pori-pori tubuhku
Tak ingin udara pesonamu merasuk
Karena aku tahu
Kulitku sensitif
Aku tutup telingaku
Menangkal getar suaramu masuk
Aku sadar
Suaramu bagai halilintar
Aku pejamkan mataku
Hindari silau tatapmu
Aku paham
Engkau adalah matahari
Jangan engkau potong asaku
Dengan belati wajahmu
cairo. xix i mmi
Tak ingin udara pesonamu merasuk
Karena aku tahu
Kulitku sensitif
Aku tutup telingaku
Menangkal getar suaramu masuk
Aku sadar
Suaramu bagai halilintar
Aku pejamkan mataku
Hindari silau tatapmu
Aku paham
Engkau adalah matahari
Jangan engkau potong asaku
Dengan belati wajahmu
cairo. xix i mmi
Sunday, January 7, 2001
Relief Kerinduan
Kudengar suaramu dalam mimpi
Memanggil
Bergetar nada bicaramu
Sepotong-potong terlontar sendu
samar kutangkap arti
Serak-serak parau melukis
Irama sapa menggurat batu
Ada relief-relief kerinduan
Ada rona kepiluan
Ada cakrawala kesedihan
Kulihat jelas dan samar
Aku coba meraih puncak makna
Saat dunia memisah maya
Merenung; kenapa?
Engkau datang dalm mimpi siang-siang
Kutebar jaring-jaring tanya
Pada dingding
pada pintu
Pada meja
Pada atap
hingga lantai yang kupijak
Dan jawabnya hanya satu
Tersimpul sendiri
Dalam lembar akhir hari ini
Benarkah?
Kugantungkan tanya dalam pikir
Dan berlari mengejar ilusi
Berharap mimpi itu kembali...
Cairo, 07 Januari 2001
Memanggil
Bergetar nada bicaramu
Sepotong-potong terlontar sendu
samar kutangkap arti
Serak-serak parau melukis
Irama sapa menggurat batu
Ada relief-relief kerinduan
Ada rona kepiluan
Ada cakrawala kesedihan
Kulihat jelas dan samar
Aku coba meraih puncak makna
Saat dunia memisah maya
Merenung; kenapa?
Engkau datang dalm mimpi siang-siang
Kutebar jaring-jaring tanya
Pada dingding
pada pintu
Pada meja
Pada atap
hingga lantai yang kupijak
Dan jawabnya hanya satu
Tersimpul sendiri
Dalam lembar akhir hari ini
Benarkah?
Kugantungkan tanya dalam pikir
Dan berlari mengejar ilusi
Berharap mimpi itu kembali...
Cairo, 07 Januari 2001
Subscribe to:
Posts (Atom)