Engkau adalah langit
Dimana bintang bergantung
Menjadikanmu layar bentang lukisan angkasa
Dimana pelangi terdampar
Sandarkan tubuh indahnya dalam teduhmu
Dimana hujan bersembunyi
Mengintip bumi ke mana rintik berlari
Engkau adalah samudra
Ketika ombak menari di lekuk wajahmu
Memaksa selat merajut terali
Ketika perahu-perahu berlayar
Jelajah lautan jiwa terbukamu
Ketika ikan tak pernah pergi
Dan karang semakin kokoh berdiri
Engkau adalah bumi
Yang membuka diri
Ketika gunung menabur lahar ambisi
Yang menggenggam erat akar
Ketika buah berubah warna
Engkau adalah cakrawala
Angkasa
Angin
Air
Udara
Uap
Tanah
Batu
Engkau adalah tuhan
Mereka yang tak meraih cintaNya
Ghurvaa 21/05/2001
Monday, May 21, 2001
Wednesday, May 9, 2001
Ku Ingin Jiwa Menyapa
Dalam sendiri
Terlena dalam lagu
Merenungi takdir, jiwa dan waktu
Sendiri dalam syahdu
Terlena dalam kembara khayal
Menata rencana dalan aksara
***
ku ingin jiwa-jiwa menyapa
bersenda bersama
mengajakku bercanda
membawaku dalam suka
ku ingin waktu mendekat
bersimpuh dalam asa
takluk dalam kuasaku
***
dan aku harus memulai
karena menunggu bukanlah rencana
karena menunggu akan menikam masa
Hugraa 09/05/2001
Terlena dalam lagu
Merenungi takdir, jiwa dan waktu
Sendiri dalam syahdu
Terlena dalam kembara khayal
Menata rencana dalan aksara
***
ku ingin jiwa-jiwa menyapa
bersenda bersama
mengajakku bercanda
membawaku dalam suka
ku ingin waktu mendekat
bersimpuh dalam asa
takluk dalam kuasaku
***
dan aku harus memulai
karena menunggu bukanlah rencana
karena menunggu akan menikam masa
Hugraa 09/05/2001
Monday, April 30, 2001
Takkan Pernah
Jika ku tahu begitu dalamnya samudra
Takkan pernah aku berlayar
Jika ku tahu begitu luasnya angkasa
Takkan pernah aku mengudara
Jika ku tahu begitu indahnya cinta
Takkan pernah ku pergi darinya
Mh. Nasr 30/04/2001
Takkan pernah aku berlayar
Jika ku tahu begitu luasnya angkasa
Takkan pernah aku mengudara
Jika ku tahu begitu indahnya cinta
Takkan pernah ku pergi darinya
Mh. Nasr 30/04/2001
Tuesday, April 17, 2001
Bukan Aku: Sebuah Apologi Palsu
Bukan aku yang datang ke rumahmu malam itu
Mengobrak-abrik isi kamarmu
Membakar kertas kerjamu
Menendang CPU, layar dan printermu
Menghajar tubuh gagahmu
Dan membantai keluargamu
Bukan aku yang menenmbaki teman-temanmu malam itu
Hanya karena tidak sejalan
Menatap curiga di setiap langkahku
Menghalangi proyek besarku
Bukan aku yang mengusir tetangga-tetangamu
Mereka saja yang tak betah di sini
Hidup harmoni bersama
Mendengar musik kesukaanku
Menari ikuti gerqk baletku
Bukan aku yang menghancurkan gedung-gedung itu
Menjadikannya puing-puing
Menelan isinya dalam bumi
Memaksa burung walet pergi
Bukan aku yang melanggar janji itu
Hanya engkau yang tak mau mengerti d
Dan semua jadi beggini
Bukan aku yang melakukan semua itu
Bukan aku yang kau tuduh itu
Aku hanya boneka
Bergerak ke mana ia suka
New Cairo 17/04/2001
Mengobrak-abrik isi kamarmu
Membakar kertas kerjamu
Menendang CPU, layar dan printermu
Menghajar tubuh gagahmu
Dan membantai keluargamu
Bukan aku yang menenmbaki teman-temanmu malam itu
Hanya karena tidak sejalan
Menatap curiga di setiap langkahku
Menghalangi proyek besarku
Bukan aku yang mengusir tetangga-tetangamu
Mereka saja yang tak betah di sini
Hidup harmoni bersama
Mendengar musik kesukaanku
Menari ikuti gerqk baletku
Bukan aku yang menghancurkan gedung-gedung itu
Menjadikannya puing-puing
Menelan isinya dalam bumi
Memaksa burung walet pergi
Bukan aku yang melanggar janji itu
Hanya engkau yang tak mau mengerti d
Dan semua jadi beggini
Bukan aku yang melakukan semua itu
Bukan aku yang kau tuduh itu
Aku hanya boneka
Bergerak ke mana ia suka
New Cairo 17/04/2001
Tuesday, April 10, 2001
1000 Bulan
Manusia-manusia putih bersalaman
Malam-malam jadi siang
Mulut-mulut jadi cerewet bukan kepalang
Butir-butir tasbih makin cepat berputar
Ya Rabb….
Kumpulkan seribu bulanMU
Dalam ruang malamku!
Katameeya
Malam-malam jadi siang
Mulut-mulut jadi cerewet bukan kepalang
Butir-butir tasbih makin cepat berputar
Ya Rabb….
Kumpulkan seribu bulanMU
Dalam ruang malamku!
Katameeya
Tuesday, April 3, 2001
Buron
:Tommy Soeharto
Pertama kali. Kulihat wajahnya di teve. Tersenyum manis. Berjalan di samping sang bapak. Di sebuah acara peresmian pabrik tempe. Gagah kulihat. Kesan pertama begitu menggoda.
Kedua kali, ku lihat fotonya di koran. Masih tersenyum manis. Menjawab pertanyaan wartawan. Membahas mobil barunya yang dapat banyak kemudahan.
Ketiga, kulihat ia sedih. Air matanya mengintip. Berduka muka. Ibundanya meninggal: meninggalkan keluarga, meninggalkan dunia, meninggalkan negara, meninggalkan luka, meninggalkan semuanya. Aku kasihan juga…
Keempat kulihat ia kesal. Tingkahnya tak bersahabat. Ia sering marah-marah.
Ayahnya jatuh. Oh, bukan. Dijatuhkan. Dilengserkan. Ia pun sering dibincangkan. Katanya, ia pernah curi ayam tetangga. Ada-ada saja.
Kelima kupergoki ia di antara kerumunan massa. Bersama mereka melempar kaca. Membakar roda-roda. Merobohkan tiang. Membakar mobil pula. Sejak bapaknya sakit, ia ikut-ikutan sakit juga. Ia pun ikut-ikutan demo. Ia tak suka orang lain tahu urusan pribadinya, padahal semua orang sudah terlajur tahu.
Kini, aku sudah tinggal di Kairo ketika ia dicari-cari polisi. Tertuduh menyimpan sesuatu. Aku tersenyum. Kukulum. Ia jadi buron? Mana mungkin! Ini pasti sebuah lakon…
Pertama kali. Kulihat wajahnya di teve. Tersenyum manis. Berjalan di samping sang bapak. Di sebuah acara peresmian pabrik tempe. Gagah kulihat. Kesan pertama begitu menggoda.
Kedua kali, ku lihat fotonya di koran. Masih tersenyum manis. Menjawab pertanyaan wartawan. Membahas mobil barunya yang dapat banyak kemudahan.
Ketiga, kulihat ia sedih. Air matanya mengintip. Berduka muka. Ibundanya meninggal: meninggalkan keluarga, meninggalkan dunia, meninggalkan negara, meninggalkan luka, meninggalkan semuanya. Aku kasihan juga…
Keempat kulihat ia kesal. Tingkahnya tak bersahabat. Ia sering marah-marah.
Ayahnya jatuh. Oh, bukan. Dijatuhkan. Dilengserkan. Ia pun sering dibincangkan. Katanya, ia pernah curi ayam tetangga. Ada-ada saja.
Kelima kupergoki ia di antara kerumunan massa. Bersama mereka melempar kaca. Membakar roda-roda. Merobohkan tiang. Membakar mobil pula. Sejak bapaknya sakit, ia ikut-ikutan sakit juga. Ia pun ikut-ikutan demo. Ia tak suka orang lain tahu urusan pribadinya, padahal semua orang sudah terlajur tahu.
Kini, aku sudah tinggal di Kairo ketika ia dicari-cari polisi. Tertuduh menyimpan sesuatu. Aku tersenyum. Kukulum. Ia jadi buron? Mana mungkin! Ini pasti sebuah lakon…
Tuesday, March 27, 2001
Kita Belum Belajar
Enam tahun kita belajar
Waktu esde dulu
Mengenal huruf dan angka
Membaca tulisan dan makna
Mungkin hanya sebatas itu
Tiga tahun kita belajar
Ketika es-em-pe dulu
Mengenal teman dan guru
Membaca cerita dan buku
Mungkin hanya sejauh itu
Tiga tahun lagi kita belajar
Di SMA dulu
Mengenal sahabat dan karib
Membaca realita
Merenungi diri, memikat dunia
Mungkin belum sejauh itu
Sampai kini masih belajar
Entah di mana
Tak terkekang oleh ruang
Membaca fenomena
Mengenal fakta
Merangkumnya dalan tingkah dan pola
Apakah benar sedalam itu?
Ah,
Ternyata kita belum serius benar belajar……
27/03/2001
Waktu esde dulu
Mengenal huruf dan angka
Membaca tulisan dan makna
Mungkin hanya sebatas itu
Tiga tahun kita belajar
Ketika es-em-pe dulu
Mengenal teman dan guru
Membaca cerita dan buku
Mungkin hanya sejauh itu
Tiga tahun lagi kita belajar
Di SMA dulu
Mengenal sahabat dan karib
Membaca realita
Merenungi diri, memikat dunia
Mungkin belum sejauh itu
Sampai kini masih belajar
Entah di mana
Tak terkekang oleh ruang
Membaca fenomena
Mengenal fakta
Merangkumnya dalan tingkah dan pola
Apakah benar sedalam itu?
Ah,
Ternyata kita belum serius benar belajar……
27/03/2001
Subscribe to:
Posts (Atom)