Untukmu Mawar
Aku takkan peduli betapa tajam durimu
Betapa banyak tangan tergores olehmu
Karena,
hanya semerbak harummu
yang melenaku hingga kini
Buatmu Melati
Aku takkan pernah menghitung
Berapa banyak melati yang mekar tiap pagi
Berapa yang gugur di siang hari
Dan besok, berapa lagi kuncup yang bersemi
Karena
Aku akan tetap setia menyirammu
memupuk, dan memetikmu tiap pagi
Dengan sepenuh hati...
Cairo, 31-Agustus-2002
Saturday, August 31, 2002
Friday, December 14, 2001
Izinkan Hamba Berubah
Ya Allah.....
Ampuni hambaMU yang tak berdaya ini
Yang selalu turuti hawa nafsu
Ada sedikit pengetahuan tertanam, memang
Tapi segunung ajakan kiri selalu menghantu
Ya Allah...
Hamba ingin jadi hambaMu sejati
Tapi mengapa.....?
Mengapa ruh kekuatan belum juga tiba
Mengapa diri ini masih yang dulu
Yang tak berkembang.......yang tak beranjak
Yang tak melaju menjemput masa depan
Mengapa diri ini masih berdiam diri
Takluk dalam genggam birahi...?
Ya Allah......
Sirami kepadanya cahaya kekuatanMU
Untuk mengusir bisikan-bisikan palsu
Menepis pikiran-pikiran tanpa etika
Biarkan ia menjadi lebih baik
Biarkan ia berbenah diri
Berikan padanya kesadaran, sebenar-benarnya kesadaran
Ya Allah....
Hanya ridhoMu yang abadi
Abadi dan sejati
Ya Allah
Saksikan dan dukunglah
Niat hamba yang tak berdaya ini
untuk berubah dan memperbaiki diri
Hamba memang sering ingkar janji
Maka hamba minta
MaafMu terbuka tiap waktu
Cairo, Ramadhan 121421
Ampuni hambaMU yang tak berdaya ini
Yang selalu turuti hawa nafsu
Ada sedikit pengetahuan tertanam, memang
Tapi segunung ajakan kiri selalu menghantu
Ya Allah...
Hamba ingin jadi hambaMu sejati
Tapi mengapa.....?
Mengapa ruh kekuatan belum juga tiba
Mengapa diri ini masih yang dulu
Yang tak berkembang.......yang tak beranjak
Yang tak melaju menjemput masa depan
Mengapa diri ini masih berdiam diri
Takluk dalam genggam birahi...?
Ya Allah......
Sirami kepadanya cahaya kekuatanMU
Untuk mengusir bisikan-bisikan palsu
Menepis pikiran-pikiran tanpa etika
Biarkan ia menjadi lebih baik
Biarkan ia berbenah diri
Berikan padanya kesadaran, sebenar-benarnya kesadaran
Ya Allah....
Hanya ridhoMu yang abadi
Abadi dan sejati
Ya Allah
Saksikan dan dukunglah
Niat hamba yang tak berdaya ini
untuk berubah dan memperbaiki diri
Hamba memang sering ingkar janji
Maka hamba minta
MaafMu terbuka tiap waktu
Cairo, Ramadhan 121421
Monday, November 19, 2001
Sebuah Puisi Dari Pengungsi
Dalam perjalanan itu
Aku bertanya pada ibu
"Bunda. Mengapa engkau bawa aku
dalam perjalanan ini
Menyusuri padang pasir
Mendaki bukit, menuruni lembah
Menjauh dari keramaian kota
Tinggalkan taman rumah
Yang kau bilang tak ramah lagi"
Ibu menyeretku tanpa jawab
Terlalu sibuk ia dengan bawaan
Terlalu banyak ia membawa beban
Beban hati… beban raga… beban jiwa…
Ibu menarikku tanpa kata
Tapi genggam jemarinya kepadaku berkata
"Nanda. Kau lihat rombongan yang bersama kita
Pilihan tak lagi mereka punya
Hanya sedikit harapan tersisa
Semoga esok masih ada dunia
Kau lihat kampung kita bercahaya
Bukan cahaya lampu, tapi pijar peluru
Bukan gemerlap pesta,
Tapi dentum meriam dan raungan pesawat!
Nanda, sakit rasanya berpisah
Lebih sakit hidup tanpa arah
Menyapa dunia ke mana angin membawa
Menggantung asa di mana nurani masih bicara"
Tangan ibu makin erat menggenggam
Ada semangat menyala
Hidup… redup… hidup… dan redup kembali
Ada kekuatan membaja
Ada hasrat membara
Ada kecewa dan sesal tak berujung pula
"kecewa!" Teriak bunda. Tangan itu menjelma taring-taring tajam
Mencengkram kuat. Sekuat hentakan rudal merobek kampungku, dan pergelanganku berdarah.
Tidak!
Darah itu tidak mengalir
Darah itu membeku
Diam di celah pori-pori tubuhku
Dan tak setetes pun mencair
"Malu!" Kudengar suara darah.
"Untuk apa aku harus mengalir jika hanya akan menambah luka?
Untuk apa aku mencair jika hanya memperparah luka?
Untuk apa aku harus mengucur jika hanya memperkeruh suasana?"
Aku terus berjalan
Bersama ibu, teman dan saudara
Aku terus tertatih
Bersama kuda, keledai dan unta
Aku masih merangkak
Bersama hasrat, harapan dan asa
Aku kini tergeletak
Bersama mimpi buruk yang terus menyertai
Hi-Seven, 19 Oktober 2001
Aku bertanya pada ibu
"Bunda. Mengapa engkau bawa aku
dalam perjalanan ini
Menyusuri padang pasir
Mendaki bukit, menuruni lembah
Menjauh dari keramaian kota
Tinggalkan taman rumah
Yang kau bilang tak ramah lagi"
Ibu menyeretku tanpa jawab
Terlalu sibuk ia dengan bawaan
Terlalu banyak ia membawa beban
Beban hati… beban raga… beban jiwa…
Ibu menarikku tanpa kata
Tapi genggam jemarinya kepadaku berkata
"Nanda. Kau lihat rombongan yang bersama kita
Pilihan tak lagi mereka punya
Hanya sedikit harapan tersisa
Semoga esok masih ada dunia
Kau lihat kampung kita bercahaya
Bukan cahaya lampu, tapi pijar peluru
Bukan gemerlap pesta,
Tapi dentum meriam dan raungan pesawat!
Nanda, sakit rasanya berpisah
Lebih sakit hidup tanpa arah
Menyapa dunia ke mana angin membawa
Menggantung asa di mana nurani masih bicara"
Tangan ibu makin erat menggenggam
Ada semangat menyala
Hidup… redup… hidup… dan redup kembali
Ada kekuatan membaja
Ada hasrat membara
Ada kecewa dan sesal tak berujung pula
"kecewa!" Teriak bunda. Tangan itu menjelma taring-taring tajam
Mencengkram kuat. Sekuat hentakan rudal merobek kampungku, dan pergelanganku berdarah.
Tidak!
Darah itu tidak mengalir
Darah itu membeku
Diam di celah pori-pori tubuhku
Dan tak setetes pun mencair
"Malu!" Kudengar suara darah.
"Untuk apa aku harus mengalir jika hanya akan menambah luka?
Untuk apa aku mencair jika hanya memperparah luka?
Untuk apa aku harus mengucur jika hanya memperkeruh suasana?"
Aku terus berjalan
Bersama ibu, teman dan saudara
Aku terus tertatih
Bersama kuda, keledai dan unta
Aku masih merangkak
Bersama hasrat, harapan dan asa
Aku kini tergeletak
Bersama mimpi buruk yang terus menyertai
Hi-Seven, 19 Oktober 2001
Saturday, September 8, 2001
Meneropong Bulan
Gelapnya malam
Terkikis sinar rembulan yang muncul
Melukis angkasa, wajahnya tercerahkan
Kulihat ia di antara bintang-bintang
Gelombang awan mendekat
Malu-malu ia
Tapi gurat sinarnya tak pudar
Walau bayang-bayang awan menutupi cahayanya
Mengitari aroma anggun tatapannya
Aku hanya bisa tersenyum
Sejenak berfikir,
Betapa rembulan jadi idola
Senyum yang kemarin, kuganti
Kupasang lukisan kacamata dalam ruang hati
Kupinjam teropong pada pengembara
Dan kutatap ia lebih dekat
Dekat...dan dekat...
Agar sejuk sinarnya
Hangatkan sanubari
Cairo, 08 September 2001
Terkikis sinar rembulan yang muncul
Melukis angkasa, wajahnya tercerahkan
Kulihat ia di antara bintang-bintang
Gelombang awan mendekat
Malu-malu ia
Tapi gurat sinarnya tak pudar
Walau bayang-bayang awan menutupi cahayanya
Mengitari aroma anggun tatapannya
Aku hanya bisa tersenyum
Sejenak berfikir,
Betapa rembulan jadi idola
Senyum yang kemarin, kuganti
Kupasang lukisan kacamata dalam ruang hati
Kupinjam teropong pada pengembara
Dan kutatap ia lebih dekat
Dekat...dan dekat...
Agar sejuk sinarnya
Hangatkan sanubari
Cairo, 08 September 2001
Friday, August 17, 2001
Harapan Dalam Harapan
Lima puluh melati layu di taman
Seratus yang kau tanam tinggal setengah
Gugur aroma harumnya mengejutkan dunia
beragam tanya merasuk di dada:
Apakah matahari panasnya terlalu membara?
Tak sediit kumbang yang terbang, jatuh
Diterpa badai gurun, sayapnya terlalu rapuh
Di pucuk-pucuk menara mereka tak mampu singgah
gemuruh ombak dan petirpun bersatu padu
Hadirkan alunan musik duka
Setetes air jatuh menimpa bumi
Dan seribu asa tumbuh menjulang di angkasa
bergerak meninggi, menusuk lapisan-lapisan langit
menyebar...mencari keampuahan doa-doa lama
Tujuh pintu langit terbuka
Berjuta pasukan tuhan menuju bumi
Menangkap asa-asa manusia
Membawanya ke hadapan yang kuasa
Yakinlah...
Harapan selalu ada dalam harapan
Cairo: 17.08.2001.
Seratus yang kau tanam tinggal setengah
Gugur aroma harumnya mengejutkan dunia
beragam tanya merasuk di dada:
Apakah matahari panasnya terlalu membara?
Tak sediit kumbang yang terbang, jatuh
Diterpa badai gurun, sayapnya terlalu rapuh
Di pucuk-pucuk menara mereka tak mampu singgah
gemuruh ombak dan petirpun bersatu padu
Hadirkan alunan musik duka
Setetes air jatuh menimpa bumi
Dan seribu asa tumbuh menjulang di angkasa
bergerak meninggi, menusuk lapisan-lapisan langit
menyebar...mencari keampuahan doa-doa lama
Tujuh pintu langit terbuka
Berjuta pasukan tuhan menuju bumi
Menangkap asa-asa manusia
Membawanya ke hadapan yang kuasa
Yakinlah...
Harapan selalu ada dalam harapan
Cairo: 17.08.2001.
Thursday, August 9, 2001
Doa Ramadhan
Ya Allah….
Dalam dekapan Ramadhan suci ini
Berilah hambamu ii kesadaran
Betapa bulan ini adalah gudang
Yang menyimpan stok rahmat
Dalam sepuluh ruang tamunya
Berikan pada hamba
Makna luas ruang maghfirahMu
Yang tersembunyi dalam sepuluh ruang keluarnya
Tancapka keyakinan pada diri hamba tentang janjiMu
Yang terlukis dalam sepuluh ruang tidur bulanMu
Menggambar kebebasan dari api abadiMu
Ya Allah…
Hamba ingin menjadi penebar ayat-ayatmu
Merangkul tiang-tiang rumahMu
MerayuMu tiap malam
MengingatMu dalam dua puluh gerak istirahatku
MenjengukMu dalam detik-detik sahurku
Menemani mata hati mengelilingi hari-hariMU
Ya Allah…
Hamba bersimpuh dalan belai kuasaMu
Mengakui kelemahan dan kesalahan nafsi
Membeberkan aib sendiri
Membuka rahasia pribadi
KepadaMu!
Mengorek dosa-dosa satu persatu
Berharap siraman deras ampunanMu
Ya Allah…
Bersama laju bulah penuh rahmah ini
Hamba lontarkan ide-ide hamba
Menjelaskan planning
Mendiskusikan visi masa depan
Mengadukan keinginan
Menumpuk harapan-harapan
Dan meletakkannya di atas tanganMu
Ya Allah…
Sedikit sekali yang ku minta
Dalam luas kuasaMu yang terbuka
Ramadhan, Kairo 2001
Dalam dekapan Ramadhan suci ini
Berilah hambamu ii kesadaran
Betapa bulan ini adalah gudang
Yang menyimpan stok rahmat
Dalam sepuluh ruang tamunya
Berikan pada hamba
Makna luas ruang maghfirahMu
Yang tersembunyi dalam sepuluh ruang keluarnya
Tancapka keyakinan pada diri hamba tentang janjiMu
Yang terlukis dalam sepuluh ruang tidur bulanMu
Menggambar kebebasan dari api abadiMu
Ya Allah…
Hamba ingin menjadi penebar ayat-ayatmu
Merangkul tiang-tiang rumahMu
MerayuMu tiap malam
MengingatMu dalam dua puluh gerak istirahatku
MenjengukMu dalam detik-detik sahurku
Menemani mata hati mengelilingi hari-hariMU
Ya Allah…
Hamba bersimpuh dalan belai kuasaMu
Mengakui kelemahan dan kesalahan nafsi
Membeberkan aib sendiri
Membuka rahasia pribadi
KepadaMu!
Mengorek dosa-dosa satu persatu
Berharap siraman deras ampunanMu
Ya Allah…
Bersama laju bulah penuh rahmah ini
Hamba lontarkan ide-ide hamba
Menjelaskan planning
Mendiskusikan visi masa depan
Mengadukan keinginan
Menumpuk harapan-harapan
Dan meletakkannya di atas tanganMu
Ya Allah…
Sedikit sekali yang ku minta
Dalam luas kuasaMu yang terbuka
Ramadhan, Kairo 2001
Wednesday, July 4, 2001
Mencuri Sorga
Hikayat ini bermula
Ketika seorang hamba lama tengelam
Dalam keruhnya air tuba
Dengan mata terbuka
Berharap ada permata mengalir bersamanya
Naif…ironis….
Dalam sadar ia berkata:
"Akulah muslim
aku beriman pada tuhan
yang mengatur gerak langit bumi"
Dalam sadar!
Langit menyeringai dan bumi mencibir!
Dalam sadar pula ia berkata:
"kesenangan adalah kehidupan
aku percaya pada dunia
aku meyakini kebebasan nafsu
akulah sang raja"
Dalam sadar!
Dunia terbahak dan nafsu terpingkal
Hikayat ini berlanjut
ketika sang hamba menutup mata
dan membuka kembali di lain dunia
ia terkejut
kenapa mesti ada kesenangan lagi,
serta kesengsaraan menanti?
sang hamba melamun
"haruskah sengsara yang menyapa?"
Dalam sadar!
Sang hamba nekat
melompat secepat kilat
merebut kabar kesenangan
mencuri sorga
berlari dan berlari
dan berakhir di lorong neraka
Tanpa sadar…
Sorgapun menghilang….
Cairo, Masa'an, 04 Juli 2001
Ketika seorang hamba lama tengelam
Dalam keruhnya air tuba
Dengan mata terbuka
Berharap ada permata mengalir bersamanya
Naif…ironis….
Dalam sadar ia berkata:
"Akulah muslim
aku beriman pada tuhan
yang mengatur gerak langit bumi"
Dalam sadar!
Langit menyeringai dan bumi mencibir!
Dalam sadar pula ia berkata:
"kesenangan adalah kehidupan
aku percaya pada dunia
aku meyakini kebebasan nafsu
akulah sang raja"
Dalam sadar!
Dunia terbahak dan nafsu terpingkal
Hikayat ini berlanjut
ketika sang hamba menutup mata
dan membuka kembali di lain dunia
ia terkejut
kenapa mesti ada kesenangan lagi,
serta kesengsaraan menanti?
sang hamba melamun
"haruskah sengsara yang menyapa?"
Dalam sadar!
Sang hamba nekat
melompat secepat kilat
merebut kabar kesenangan
mencuri sorga
berlari dan berlari
dan berakhir di lorong neraka
Tanpa sadar…
Sorgapun menghilang….
Cairo, Masa'an, 04 Juli 2001
Subscribe to:
Posts (Atom)