Saturday, February 4, 2006

Euphoria

Dalam sekejap dunia endap

Pijar harap

Dulu lelap, silap, gelap

Kini gemerlap

KASMARAN


Sepotong rembulan.

Secarik awan.

Bayang-bayang bintang.

Katanya, seindah rupamu


Seulas senyum.

Sebongkah hati.

Balasnya, tidak tanpamu...


Madura, 2006

Sunday, August 21, 2005

Kerinduan yang datang sewaktu-waktu, tak mengenal waktu

Engkau selalu ada,

dan aku dahaga:

setiap kali namamu merasuki mata,

wajahmu datang menerpa-nerpa

Jika engkau air,

akulah arusmu...

Masakin Osman, 12 Agustus 2005

Saturday, August 31, 2002

Mawaar Melatii... Semuanya Indah!

Untukmu Mawar
Aku takkan peduli betapa tajam durimu
Betapa banyak tangan tergores olehmu
Karena,
hanya semerbak harummu
yang melenaku hingga kini

Buatmu Melati
Aku takkan pernah menghitung
Berapa banyak melati yang mekar tiap pagi
Berapa yang gugur di siang hari
Dan besok, berapa lagi kuncup yang bersemi
Karena
Aku akan tetap setia menyirammu
memupuk, dan memetikmu tiap pagi
Dengan sepenuh hati...

Cairo, 31-Agustus-2002

Friday, December 14, 2001

Izinkan Hamba Berubah

Ya Allah.....
Ampuni hambaMU yang tak berdaya ini
Yang selalu turuti hawa nafsu
Ada sedikit pengetahuan tertanam, memang
Tapi segunung ajakan kiri selalu menghantu

Ya Allah...
Hamba ingin jadi hambaMu sejati
Tapi mengapa.....?
Mengapa ruh kekuatan belum juga tiba
Mengapa diri ini masih yang dulu
Yang tak berkembang.......yang tak beranjak
Yang tak melaju menjemput masa depan
Mengapa diri ini masih berdiam diri
Takluk dalam genggam birahi...?

Ya Allah......
Sirami kepadanya cahaya kekuatanMU
Untuk mengusir bisikan-bisikan palsu
Menepis pikiran-pikiran tanpa etika
Biarkan ia menjadi lebih baik
Biarkan ia berbenah diri
Berikan padanya kesadaran, sebenar-benarnya kesadaran

Ya Allah....
Hanya ridhoMu yang abadi
Abadi dan sejati

Ya Allah
Saksikan dan dukunglah
Niat hamba yang tak berdaya ini
untuk berubah dan memperbaiki diri
Hamba memang sering ingkar janji
Maka hamba minta
MaafMu terbuka tiap waktu

Cairo, Ramadhan 121421

Monday, November 19, 2001

Sebuah Puisi Dari Pengungsi

Dalam perjalanan itu
Aku bertanya pada ibu

"Bunda. Mengapa engkau bawa aku
dalam perjalanan ini
Menyusuri padang pasir
Mendaki bukit, menuruni lembah
Menjauh dari keramaian kota
Tinggalkan taman rumah
Yang kau bilang tak ramah lagi"

Ibu menyeretku tanpa jawab
Terlalu sibuk ia dengan bawaan
Terlalu banyak ia membawa beban
Beban hati… beban raga… beban jiwa…

Ibu menarikku tanpa kata
Tapi genggam jemarinya kepadaku berkata

"Nanda. Kau lihat rombongan yang bersama kita
Pilihan tak lagi mereka punya
Hanya sedikit harapan tersisa
Semoga esok masih ada dunia

Kau lihat kampung kita bercahaya
Bukan cahaya lampu, tapi pijar peluru
Bukan gemerlap pesta,
Tapi dentum meriam dan raungan pesawat!

Nanda, sakit rasanya berpisah
Lebih sakit hidup tanpa arah
Menyapa dunia ke mana angin membawa
Menggantung asa di mana nurani masih bicara"

Tangan ibu makin erat menggenggam
Ada semangat menyala
Hidup… redup… hidup… dan redup kembali
Ada kekuatan membaja
Ada hasrat membara
Ada kecewa dan sesal tak berujung pula

"kecewa!" Teriak bunda. Tangan itu menjelma taring-taring tajam
Mencengkram kuat. Sekuat hentakan rudal merobek kampungku, dan pergelanganku berdarah.

Tidak!
Darah itu tidak mengalir
Darah itu membeku
Diam di celah pori-pori tubuhku
Dan tak setetes pun mencair

"Malu!" Kudengar suara darah.
"Untuk apa aku harus mengalir jika hanya akan menambah luka?
Untuk apa aku mencair jika hanya memperparah luka?
Untuk apa aku harus mengucur jika hanya memperkeruh suasana?"

Aku terus berjalan
Bersama ibu, teman dan saudara
Aku terus tertatih
Bersama kuda, keledai dan unta
Aku masih merangkak
Bersama hasrat, harapan dan asa
Aku kini tergeletak
Bersama mimpi buruk yang terus menyertai

Hi-Seven, 19 Oktober 2001

Saturday, September 8, 2001

Meneropong Bulan

Gelapnya malam
Terkikis sinar rembulan yang muncul
Melukis angkasa, wajahnya tercerahkan
Kulihat ia di antara bintang-bintang

Gelombang awan mendekat
Malu-malu ia
Tapi gurat sinarnya tak pudar
Walau bayang-bayang awan menutupi cahayanya
Mengitari aroma anggun tatapannya

Aku hanya bisa tersenyum
Sejenak berfikir,
Betapa rembulan jadi idola

Senyum yang kemarin, kuganti
Kupasang lukisan kacamata dalam ruang hati
Kupinjam teropong pada pengembara
Dan kutatap ia lebih dekat
Dekat...dan dekat...
Agar sejuk sinarnya
Hangatkan sanubari

Cairo, 08 September 2001