Saya sedang terburu-buru. Sebuah taksi saya hentikan. Begitu masuk saya langsung bilang, “Orchad Road, please…!”
“Yes, sir.”
Suara itu terdengar dari kursi sopir. Saya terkejut. Itu suara perempuan! Saya segera melihat sopir taksi dari kursi belakang. Benar. Sopir taksi ini perempuan! Rambutnya pirang. Saya kira, umurnya tidak kurang dari 50 tahun. Rona keriput di wajahnya menyiratkan usia senja itu. Saya bisa melihatnya dari sisi kiri, karena saya duduk di kursi belakang sebelah kiri.
Ternyata, menjadi sopir bukan hal yang aneh di Singapura. Setelah kejadian itu, saya kemudian sering melihat sopir angkutan umum, seperti bus kota, adalah perempuan. Awalnya, bagi saya, melihat seorang perempuan menjadi sopir taksi adalah sebuah surprise. Saya langsung terbayang bagaimana kisah perampokan dan pembajakan sopir taksi di Jakarta, padahal semua sopir taksi adalah lelaki. Bagaimana jika sopirnya adalah perempuan dan setua ibu berambut pirang ini?
Singapore, 3 Juny 2008
Tuesday, June 3, 2008
Saturday, February 4, 2006
Sunday, August 21, 2005
Kerinduan yang datang sewaktu-waktu, tak mengenal waktu
Engkau selalu ada,
dan aku dahaga:
setiap kali namamu merasuki mata,
wajahmu datang menerpa-nerpa
Jika engkau air,
akulah arusmu...
Masakin Osman, 12 Agustus 2005
Saturday, August 31, 2002
Mawaar Melatii... Semuanya Indah!
Untukmu Mawar
Aku takkan peduli betapa tajam durimu
Betapa banyak tangan tergores olehmu
Karena,
hanya semerbak harummu
yang melenaku hingga kini
Buatmu Melati
Aku takkan pernah menghitung
Berapa banyak melati yang mekar tiap pagi
Berapa yang gugur di siang hari
Dan besok, berapa lagi kuncup yang bersemi
Karena
Aku akan tetap setia menyirammu
memupuk, dan memetikmu tiap pagi
Dengan sepenuh hati...
Cairo, 31-Agustus-2002
Aku takkan peduli betapa tajam durimu
Betapa banyak tangan tergores olehmu
Karena,
hanya semerbak harummu
yang melenaku hingga kini
Buatmu Melati
Aku takkan pernah menghitung
Berapa banyak melati yang mekar tiap pagi
Berapa yang gugur di siang hari
Dan besok, berapa lagi kuncup yang bersemi
Karena
Aku akan tetap setia menyirammu
memupuk, dan memetikmu tiap pagi
Dengan sepenuh hati...
Cairo, 31-Agustus-2002
Friday, December 14, 2001
Izinkan Hamba Berubah
Ya Allah.....
Ampuni hambaMU yang tak berdaya ini
Yang selalu turuti hawa nafsu
Ada sedikit pengetahuan tertanam, memang
Tapi segunung ajakan kiri selalu menghantu
Ya Allah...
Hamba ingin jadi hambaMu sejati
Tapi mengapa.....?
Mengapa ruh kekuatan belum juga tiba
Mengapa diri ini masih yang dulu
Yang tak berkembang.......yang tak beranjak
Yang tak melaju menjemput masa depan
Mengapa diri ini masih berdiam diri
Takluk dalam genggam birahi...?
Ya Allah......
Sirami kepadanya cahaya kekuatanMU
Untuk mengusir bisikan-bisikan palsu
Menepis pikiran-pikiran tanpa etika
Biarkan ia menjadi lebih baik
Biarkan ia berbenah diri
Berikan padanya kesadaran, sebenar-benarnya kesadaran
Ya Allah....
Hanya ridhoMu yang abadi
Abadi dan sejati
Ya Allah
Saksikan dan dukunglah
Niat hamba yang tak berdaya ini
untuk berubah dan memperbaiki diri
Hamba memang sering ingkar janji
Maka hamba minta
MaafMu terbuka tiap waktu
Cairo, Ramadhan 121421
Ampuni hambaMU yang tak berdaya ini
Yang selalu turuti hawa nafsu
Ada sedikit pengetahuan tertanam, memang
Tapi segunung ajakan kiri selalu menghantu
Ya Allah...
Hamba ingin jadi hambaMu sejati
Tapi mengapa.....?
Mengapa ruh kekuatan belum juga tiba
Mengapa diri ini masih yang dulu
Yang tak berkembang.......yang tak beranjak
Yang tak melaju menjemput masa depan
Mengapa diri ini masih berdiam diri
Takluk dalam genggam birahi...?
Ya Allah......
Sirami kepadanya cahaya kekuatanMU
Untuk mengusir bisikan-bisikan palsu
Menepis pikiran-pikiran tanpa etika
Biarkan ia menjadi lebih baik
Biarkan ia berbenah diri
Berikan padanya kesadaran, sebenar-benarnya kesadaran
Ya Allah....
Hanya ridhoMu yang abadi
Abadi dan sejati
Ya Allah
Saksikan dan dukunglah
Niat hamba yang tak berdaya ini
untuk berubah dan memperbaiki diri
Hamba memang sering ingkar janji
Maka hamba minta
MaafMu terbuka tiap waktu
Cairo, Ramadhan 121421
Monday, November 19, 2001
Sebuah Puisi Dari Pengungsi
Dalam perjalanan itu
Aku bertanya pada ibu
"Bunda. Mengapa engkau bawa aku
dalam perjalanan ini
Menyusuri padang pasir
Mendaki bukit, menuruni lembah
Menjauh dari keramaian kota
Tinggalkan taman rumah
Yang kau bilang tak ramah lagi"
Ibu menyeretku tanpa jawab
Terlalu sibuk ia dengan bawaan
Terlalu banyak ia membawa beban
Beban hati… beban raga… beban jiwa…
Ibu menarikku tanpa kata
Tapi genggam jemarinya kepadaku berkata
"Nanda. Kau lihat rombongan yang bersama kita
Pilihan tak lagi mereka punya
Hanya sedikit harapan tersisa
Semoga esok masih ada dunia
Kau lihat kampung kita bercahaya
Bukan cahaya lampu, tapi pijar peluru
Bukan gemerlap pesta,
Tapi dentum meriam dan raungan pesawat!
Nanda, sakit rasanya berpisah
Lebih sakit hidup tanpa arah
Menyapa dunia ke mana angin membawa
Menggantung asa di mana nurani masih bicara"
Tangan ibu makin erat menggenggam
Ada semangat menyala
Hidup… redup… hidup… dan redup kembali
Ada kekuatan membaja
Ada hasrat membara
Ada kecewa dan sesal tak berujung pula
"kecewa!" Teriak bunda. Tangan itu menjelma taring-taring tajam
Mencengkram kuat. Sekuat hentakan rudal merobek kampungku, dan pergelanganku berdarah.
Tidak!
Darah itu tidak mengalir
Darah itu membeku
Diam di celah pori-pori tubuhku
Dan tak setetes pun mencair
"Malu!" Kudengar suara darah.
"Untuk apa aku harus mengalir jika hanya akan menambah luka?
Untuk apa aku mencair jika hanya memperparah luka?
Untuk apa aku harus mengucur jika hanya memperkeruh suasana?"
Aku terus berjalan
Bersama ibu, teman dan saudara
Aku terus tertatih
Bersama kuda, keledai dan unta
Aku masih merangkak
Bersama hasrat, harapan dan asa
Aku kini tergeletak
Bersama mimpi buruk yang terus menyertai
Hi-Seven, 19 Oktober 2001
Aku bertanya pada ibu
"Bunda. Mengapa engkau bawa aku
dalam perjalanan ini
Menyusuri padang pasir
Mendaki bukit, menuruni lembah
Menjauh dari keramaian kota
Tinggalkan taman rumah
Yang kau bilang tak ramah lagi"
Ibu menyeretku tanpa jawab
Terlalu sibuk ia dengan bawaan
Terlalu banyak ia membawa beban
Beban hati… beban raga… beban jiwa…
Ibu menarikku tanpa kata
Tapi genggam jemarinya kepadaku berkata
"Nanda. Kau lihat rombongan yang bersama kita
Pilihan tak lagi mereka punya
Hanya sedikit harapan tersisa
Semoga esok masih ada dunia
Kau lihat kampung kita bercahaya
Bukan cahaya lampu, tapi pijar peluru
Bukan gemerlap pesta,
Tapi dentum meriam dan raungan pesawat!
Nanda, sakit rasanya berpisah
Lebih sakit hidup tanpa arah
Menyapa dunia ke mana angin membawa
Menggantung asa di mana nurani masih bicara"
Tangan ibu makin erat menggenggam
Ada semangat menyala
Hidup… redup… hidup… dan redup kembali
Ada kekuatan membaja
Ada hasrat membara
Ada kecewa dan sesal tak berujung pula
"kecewa!" Teriak bunda. Tangan itu menjelma taring-taring tajam
Mencengkram kuat. Sekuat hentakan rudal merobek kampungku, dan pergelanganku berdarah.
Tidak!
Darah itu tidak mengalir
Darah itu membeku
Diam di celah pori-pori tubuhku
Dan tak setetes pun mencair
"Malu!" Kudengar suara darah.
"Untuk apa aku harus mengalir jika hanya akan menambah luka?
Untuk apa aku mencair jika hanya memperparah luka?
Untuk apa aku harus mengucur jika hanya memperkeruh suasana?"
Aku terus berjalan
Bersama ibu, teman dan saudara
Aku terus tertatih
Bersama kuda, keledai dan unta
Aku masih merangkak
Bersama hasrat, harapan dan asa
Aku kini tergeletak
Bersama mimpi buruk yang terus menyertai
Hi-Seven, 19 Oktober 2001
Subscribe to:
Posts (Atom)