Wednesday, December 1, 2010

perempuan itu telah menceritakan semuanya

raut mukanya masih seperti dulu. raut yang ceria. ia duduk di kursi itu seakan tubuhnya tak tertampung. sebentar menggeser pantatnya ke kiri, sebentar menggesernya ke kanan. kursi itu sesekali berderit. seperti lonceng hatiku yang sejak tadi berdering.

ia menatapku. masih seperti tatapan yang dulu. tatapan yang bahagia. aku menebak-nebak. apakah karena pertemuan ini atau memang karena tatapannya yang tak pernah bisa berubah?

satu tahun silam, kami pernah seperti ini. duduk berhadap-hadapan. saling bertukar pandangan dan sedikit kata-kata.

"kamu tidak pernah lagi berkirim surat kepadaku." suaranya membelah keheningan.

aku diam. ia pasti sudah tahu jawabannya.

sejak ia tinggalkan kota ini, aku memang tak pernah berkirim kabar. surat yang dia kirim padaku kubuang. imel yang kuterima darinya kuhapus.

dan aku yakin ia tahu penyebabnya.

sepekan sebelum kepergiannya, seorang perempuan datang dari jauh. ia menemuiku. katanya, "abaikan semua perkataan dan kasih sayang yang ia berikan kepadamu. mulai dari sekarang. aku ini istrinya. aku calon ibu dari anaknya. ia tak tega bercerita semua kepadamu. meski masih selalu ada keinginan untuk menemuimu."

lalu perempuan itu berlalu, membawa pergi sketsa lelaki dari pikiranku.

kuberanikan diri berkata. "apakah perempuan itu tahu kau pergi menemuiku sekarang?"

tak ada jawaban.

Soerabaja. 2.12.2010

No comments:

Post a Comment