sejak ayahnya berkata "dunia ini kejam, nak...", ke mana-mana pemuda itu selalu membawa clurit. suatu hari, seorang polisi menghadangnya. "dilarang membawa senjata tajam, kau tahu?" pria itu menjawab, "kata ayah, dunia ini kejam, pak." polisi itu pun melepasnya. saat pulang, si polisi dihadang istrinya. "kenapa bawa pistol ke rumah?" polisi menjawab, "kata pria itu, dunia ini kejam, mak..." dan istrinya pun pergi. di dapur, sang anak melihat ibunya memegang pisau tajam. ia menjerit. "bunda, bunda... kenapa bunda memegang pisau yang tajam itu?" sambil tak melepas wortel di tangan kirinya, si ibu menjawab, "kata ayah, dunia ini kejam, nak..." anaknya lari ke halaman. ia mengambil pedang mainannya dan menghamburkan diri di keramaian lapangan. teman-temannya sedang asik bermain. "kenapa kamu membawa pedang-pedangan kayu itu?" seorang anak perempuan yang baru pulang dari sekolah menegurnya. anak pemegang pedang itu menjawab, "kata bunda, dunia ini kejam, kak..." si anak perempuan membongkar tasnya, mengambil pensil dan menggenggamnya erat di tangan. setibanya di rumah, segera ia buka pintu, masuk ke dalam dan berteriak-teriak sambil mengacungkan pensil di tangan. "ayah... ibu... kata anak itu, dunia ini kejam...!!" ayah dan ibunya terkejut. ayahnya tak sempat menyembunyikan pisau yang ia pegang, dan si ibu pun gelagapan memegangi gunting berdarah di tangannya. sambil terpaku mereka berdua berkata, "iya, dunia ini kejam, nak..."
gayungan, 26.1.2011
Wednesday, January 26, 2011
Tuesday, January 25, 2011
memorizing memory
setiap kali membicarakan masa kecil, serasa ada getaran-getaran aneh yang menyentuh hati dan menjalar ke seluruh sendi. mungkin ini yang disebut daya magis masa lalu. entah masa lalu itu bernama masa indah, masa suram, atau masa yang menyeramkan.
memang tak semua anak lahir di lingkungan yang diinginkan, dari keluarga yang dia suka, tapi hampir semua anak lahir dari ibu yang mencintainya. meski -mungkin- sebagian ibu tak menyukai "kelahiran" anaknya. sekali lagi "kelahiran", bukan "anak"-nya.
lalu, ketika seseorang sudah beranjak tua, ke manakah masa kecilnya? di manakah masa lalunya bersembunyi?
apa yang disebut dengan "nostalgia" menegaskan bahwa masa lalu tidak hilang. ia dilalui, dilewati, tetapi bisa dihadirkan kembali suatu waktu--melalui mimpi, memori, atau arsip-arsip buatan yang bisa diputar ulang kapan saja.
dulu, orang tua kita, karena keterbatasan teknologi-misalnya, mungkin tak sempat mengabadikan masa kecil kita secara visual. tak banyak foto atau video yang merekam. hanya cerita-cerita verbal dan kisah dari mulut ke mulut yang bisa kita dengarkan untuk menggambarkan kembali masa lalu. tapi itu tak bisa menghapus kemeriahan masa lalu. setiap cerita tentang masa lalu masih saja mampu membuat hati bergetar. seperti ada tarikan waktu magnetik yang menyedot sepenuh perhatian.
dan bukankah setiap orang memiliki masa lalu?
tapi mengapa sebagian orang mengutuk masa lalu? pertanyaan ini mudah sekali dijawab oleh mereka yang menjalani masa lalu sebagai masa suram, menyakitkan, menyeramkan, dan berbagai sifat buruk lainnya. bagi mereka, masa lalu adalah kesedihan. masa yang menyakitkan. lalu untuk apa menyimpan kesedihan? buat apa mengenang kesakitan?
mereka berusaha menjauh, melarikan diri, mengubur (atau apapun istilahnya) masa lalu. mereka lupa bahwa masa lalu takkan bisa dikubur. ia telah terjadi, dilewati, dialami, dan tetap ada hingga sekarang. buktinya, masa itu masih menjadi bayang-bayang masa kini mereka.
salah satu langkah yang baik untuk "menjauh" -jika merasa harus menjauh- dari masa lalu adalah menggeluti masa kini. waktu ibarat tabir-tabir kehidupan yang tumpang tindih dan saling menutupi. jika kita mengakrabi masa kini, masa lalu dengan sendirinya tersingkir. bila kita terus membayangi diri dengan masa lalu, masa kini akan tersisih. begitu seterusnya. barisan-barisan masa berlomba menjadi penguasa dalam diri kita, dan kita harus menjadi jawara untuk bisa mengaturnya.
so, don't forget the last, experience the present, and dream the future...!
4-1f4, 26.1.2011
memang tak semua anak lahir di lingkungan yang diinginkan, dari keluarga yang dia suka, tapi hampir semua anak lahir dari ibu yang mencintainya. meski -mungkin- sebagian ibu tak menyukai "kelahiran" anaknya. sekali lagi "kelahiran", bukan "anak"-nya.
lalu, ketika seseorang sudah beranjak tua, ke manakah masa kecilnya? di manakah masa lalunya bersembunyi?
apa yang disebut dengan "nostalgia" menegaskan bahwa masa lalu tidak hilang. ia dilalui, dilewati, tetapi bisa dihadirkan kembali suatu waktu--melalui mimpi, memori, atau arsip-arsip buatan yang bisa diputar ulang kapan saja.
dulu, orang tua kita, karena keterbatasan teknologi-misalnya, mungkin tak sempat mengabadikan masa kecil kita secara visual. tak banyak foto atau video yang merekam. hanya cerita-cerita verbal dan kisah dari mulut ke mulut yang bisa kita dengarkan untuk menggambarkan kembali masa lalu. tapi itu tak bisa menghapus kemeriahan masa lalu. setiap cerita tentang masa lalu masih saja mampu membuat hati bergetar. seperti ada tarikan waktu magnetik yang menyedot sepenuh perhatian.
dan bukankah setiap orang memiliki masa lalu?
tapi mengapa sebagian orang mengutuk masa lalu? pertanyaan ini mudah sekali dijawab oleh mereka yang menjalani masa lalu sebagai masa suram, menyakitkan, menyeramkan, dan berbagai sifat buruk lainnya. bagi mereka, masa lalu adalah kesedihan. masa yang menyakitkan. lalu untuk apa menyimpan kesedihan? buat apa mengenang kesakitan?
mereka berusaha menjauh, melarikan diri, mengubur (atau apapun istilahnya) masa lalu. mereka lupa bahwa masa lalu takkan bisa dikubur. ia telah terjadi, dilewati, dialami, dan tetap ada hingga sekarang. buktinya, masa itu masih menjadi bayang-bayang masa kini mereka.
salah satu langkah yang baik untuk "menjauh" -jika merasa harus menjauh- dari masa lalu adalah menggeluti masa kini. waktu ibarat tabir-tabir kehidupan yang tumpang tindih dan saling menutupi. jika kita mengakrabi masa kini, masa lalu dengan sendirinya tersingkir. bila kita terus membayangi diri dengan masa lalu, masa kini akan tersisih. begitu seterusnya. barisan-barisan masa berlomba menjadi penguasa dalam diri kita, dan kita harus menjadi jawara untuk bisa mengaturnya.
so, don't forget the last, experience the present, and dream the future...!
4-1f4, 26.1.2011
Monday, January 24, 2011
fire me up!
ngokos
kabbhi colo' katonon
mardeh agelirep, aca'lonca' e pangoca'
cethak ancor, pele
tradeih
sempen se lain, otekkah torot
ma'le ngabuh
terjemahan:
mengasap
mulut-mulut terbakar
bara membara, berloncatan pada kata-kata
kepala hancur, pungut
jumput
simpan yang lain, biarkan otaknya
biarkan ia menjadi abu
gayungan.25.1.2011
kabbhi colo' katonon
mardeh agelirep, aca'lonca' e pangoca'
cethak ancor, pele
tradeih
sempen se lain, otekkah torot
ma'le ngabuh
terjemahan:
mengasap
mulut-mulut terbakar
bara membara, berloncatan pada kata-kata
kepala hancur, pungut
jumput
simpan yang lain, biarkan otaknya
biarkan ia menjadi abu
gayungan.25.1.2011
Wednesday, December 22, 2010
honesty and the limits of ethic
"tak seharusnya kau berkata begitu." ujar arif setelah memastikan arifah keluar dari ruang kami. ia memandangiku, dan aku menghentikan ketikan. aku menoleh ke arahnya.
"kenapa? apa yang salah dari kata-kataku? kujelaskan semua, apa adanya. tak ada yang aku tutupi atau aku tambahi. kau pun tahu."
"iya. aku tahu kau mengatakan apa adanya. tapi justru karena itu. kejujuran memang tidak mengenal batas. tapi etika memiliki batasan-batasan yang semestinya kita tahu."
"maksudmu?"
"tak seharusnya kamu menceritakan semua pembicaraanmu dengan arfa kepada arifah. kau tahu bukan, arfa dan arifah sedang dalam ketidakbaikan? maksudku, jika kamu ingin menceritakan dengan jujur apa yang ditanyakan arifah, katakanlah, tapi tolong pilah dan pilih mana yang kira-kira membawa kebaikan dan mana yang kau kira akan memperparah keadaan. ini bukan soal kamu dan arifah. tapi menyangkut arfa juga."
"sebentar. aku mulai mengerti ke mana arah perkataanmu. menurutmu, apakah itu salahku atau salah pertanyaan dari arifah kepadaku? apakah aku harus tidak menjawab sesuatu yang kutahu jika itu ditanyakan padaku?"
"kenapa tidak, jika itu kau rasa lebih baik? menyimpan bukan berarti tidak jujur. lawan dari kejujuran adalah kebohongan dan lawan dari menyimpan cerita adalah membeberkannya. kamu memang tidak boleh berbohong, tapi kamu berhak menyimpan sebuah cerita."
"tapi..."
"ah, sudahlah. kukira kamu pasti tahu bahwa yang dilarang oleh agama itu berbohong, bukan menyimpan sebuah cerita. kamu berhak diam saat ditanya. hidup ini bukan ruang ujian lisan yang setiap pertanyaannya harus dijawab dengan kata-kata."
"jika kita diam saja, ruang diam kita bisa diisi oleh cerita-cerita lain yang belum tentu benar. dan itu juga bisa merusak keadaan..."
"jangan memperluas tema. itu soal lain. kita sedang membahas ucapan dan ceritamu kepada arifah yang juga menyangkut arfa. that's all. aku mau lanjutkan kerja. dag..." arif nyengir. ia membiarkan aku yang melongo kesal ke arahnya. kulihat sekilas senyum kepuasan di wajahnya.
dasar lelaki pembuka. sukanya memulai pembicaraan dan tak mau menutupnya dengan benar! menutup seenaknya sendiri. lalu mana batasan-batasan etika yang dia singgung tadi? aku tidak marah, sebab aku tahu dia sedang bercanda dan etika tak mudah masuk dalam ruang canda.
Pe-Aa, 23.12.2010
"kenapa? apa yang salah dari kata-kataku? kujelaskan semua, apa adanya. tak ada yang aku tutupi atau aku tambahi. kau pun tahu."
"iya. aku tahu kau mengatakan apa adanya. tapi justru karena itu. kejujuran memang tidak mengenal batas. tapi etika memiliki batasan-batasan yang semestinya kita tahu."
"maksudmu?"
"tak seharusnya kamu menceritakan semua pembicaraanmu dengan arfa kepada arifah. kau tahu bukan, arfa dan arifah sedang dalam ketidakbaikan? maksudku, jika kamu ingin menceritakan dengan jujur apa yang ditanyakan arifah, katakanlah, tapi tolong pilah dan pilih mana yang kira-kira membawa kebaikan dan mana yang kau kira akan memperparah keadaan. ini bukan soal kamu dan arifah. tapi menyangkut arfa juga."
"sebentar. aku mulai mengerti ke mana arah perkataanmu. menurutmu, apakah itu salahku atau salah pertanyaan dari arifah kepadaku? apakah aku harus tidak menjawab sesuatu yang kutahu jika itu ditanyakan padaku?"
"kenapa tidak, jika itu kau rasa lebih baik? menyimpan bukan berarti tidak jujur. lawan dari kejujuran adalah kebohongan dan lawan dari menyimpan cerita adalah membeberkannya. kamu memang tidak boleh berbohong, tapi kamu berhak menyimpan sebuah cerita."
"tapi..."
"ah, sudahlah. kukira kamu pasti tahu bahwa yang dilarang oleh agama itu berbohong, bukan menyimpan sebuah cerita. kamu berhak diam saat ditanya. hidup ini bukan ruang ujian lisan yang setiap pertanyaannya harus dijawab dengan kata-kata."
"jika kita diam saja, ruang diam kita bisa diisi oleh cerita-cerita lain yang belum tentu benar. dan itu juga bisa merusak keadaan..."
"jangan memperluas tema. itu soal lain. kita sedang membahas ucapan dan ceritamu kepada arifah yang juga menyangkut arfa. that's all. aku mau lanjutkan kerja. dag..." arif nyengir. ia membiarkan aku yang melongo kesal ke arahnya. kulihat sekilas senyum kepuasan di wajahnya.
dasar lelaki pembuka. sukanya memulai pembicaraan dan tak mau menutupnya dengan benar! menutup seenaknya sendiri. lalu mana batasan-batasan etika yang dia singgung tadi? aku tidak marah, sebab aku tahu dia sedang bercanda dan etika tak mudah masuk dalam ruang canda.
Pe-Aa, 23.12.2010
Saturday, December 4, 2010
cenayang
pangaterro posang
neter e penggireh tongkang
pasekken neggu'
ombe' buruh pangtakarpang
ka tase' paraoh alangngoi
e gunung jeren-jeren ongge
neng soloran besseh seppor lanjeng larnalar
kapal ngabbher ka angin
ka jeunah
de'emma'ah be'nah ajelen?
kuncinah masjid esempen
labengngah gereja egembok
klenteng rosak
wihara epuger
lebhet dinna'...
lebhet dissa'...
gayungan.5.12.2010
neter e penggireh tongkang
pasekken neggu'
ombe' buruh pangtakarpang
ka tase' paraoh alangngoi
e gunung jeren-jeren ongge
neng soloran besseh seppor lanjeng larnalar
kapal ngabbher ka angin
ka jeunah
de'emma'ah be'nah ajelen?
kuncinah masjid esempen
labengngah gereja egembok
klenteng rosak
wihara epuger
lebhet dinna'...
lebhet dissa'...
gayungan.5.12.2010
Wednesday, December 1, 2010
perempuan itu telah menceritakan semuanya
raut mukanya masih seperti dulu. raut yang ceria. ia duduk di kursi itu seakan tubuhnya tak tertampung. sebentar menggeser pantatnya ke kiri, sebentar menggesernya ke kanan. kursi itu sesekali berderit. seperti lonceng hatiku yang sejak tadi berdering.
ia menatapku. masih seperti tatapan yang dulu. tatapan yang bahagia. aku menebak-nebak. apakah karena pertemuan ini atau memang karena tatapannya yang tak pernah bisa berubah?
satu tahun silam, kami pernah seperti ini. duduk berhadap-hadapan. saling bertukar pandangan dan sedikit kata-kata.
"kamu tidak pernah lagi berkirim surat kepadaku." suaranya membelah keheningan.
aku diam. ia pasti sudah tahu jawabannya.
sejak ia tinggalkan kota ini, aku memang tak pernah berkirim kabar. surat yang dia kirim padaku kubuang. imel yang kuterima darinya kuhapus.
dan aku yakin ia tahu penyebabnya.
sepekan sebelum kepergiannya, seorang perempuan datang dari jauh. ia menemuiku. katanya, "abaikan semua perkataan dan kasih sayang yang ia berikan kepadamu. mulai dari sekarang. aku ini istrinya. aku calon ibu dari anaknya. ia tak tega bercerita semua kepadamu. meski masih selalu ada keinginan untuk menemuimu."
lalu perempuan itu berlalu, membawa pergi sketsa lelaki dari pikiranku.
kuberanikan diri berkata. "apakah perempuan itu tahu kau pergi menemuiku sekarang?"
tak ada jawaban.
Soerabaja. 2.12.2010
ia menatapku. masih seperti tatapan yang dulu. tatapan yang bahagia. aku menebak-nebak. apakah karena pertemuan ini atau memang karena tatapannya yang tak pernah bisa berubah?
satu tahun silam, kami pernah seperti ini. duduk berhadap-hadapan. saling bertukar pandangan dan sedikit kata-kata.
"kamu tidak pernah lagi berkirim surat kepadaku." suaranya membelah keheningan.
aku diam. ia pasti sudah tahu jawabannya.
sejak ia tinggalkan kota ini, aku memang tak pernah berkirim kabar. surat yang dia kirim padaku kubuang. imel yang kuterima darinya kuhapus.
dan aku yakin ia tahu penyebabnya.
sepekan sebelum kepergiannya, seorang perempuan datang dari jauh. ia menemuiku. katanya, "abaikan semua perkataan dan kasih sayang yang ia berikan kepadamu. mulai dari sekarang. aku ini istrinya. aku calon ibu dari anaknya. ia tak tega bercerita semua kepadamu. meski masih selalu ada keinginan untuk menemuimu."
lalu perempuan itu berlalu, membawa pergi sketsa lelaki dari pikiranku.
kuberanikan diri berkata. "apakah perempuan itu tahu kau pergi menemuiku sekarang?"
tak ada jawaban.
Soerabaja. 2.12.2010
terluka
katotop areh
sorem
ateh karem
e jaunah, moso marem
durih alokaeh kaktus
dere-nana ngojenih tana
sorbeje.2.12.2010
sorem
ateh karem
e jaunah, moso marem
durih alokaeh kaktus
dere-nana ngojenih tana
sorbeje.2.12.2010
Subscribe to:
Posts (Atom)